Follow us on:

Pages

Batman The Dark Knight Rises


Oh, say can you see, by the dawn’s early light,
What so proudly we hailed at the twilight’s last gleaming?

Lagu kebangsaan Amerika Serikat, The Star-Spangled Banner, berkumandang di lapangan rugby Kota Gotham. Seorang penyanyi cilik bernyanyi di tengah lapangan, diikuti suara para penonton. Lagu berakhir, pertandingan pun dimulai. Penyerang dari tim Kota Gotham berlari ke arah garis akhir, menghindari anggota tim lawan yang berusaha menjegalnya.

Sampai di garis akhir, si penyerang berhenti dan membalikkan badan. Ternyata tak ada yang mengejarnya. Anggota tim lawan ataupun Kota Gotham terjerumus ke bawah lapangan yang tanahnya amblas karena bom buatan Bane. Serangan ke lapangan rugby Kota Gotham menandakan serbuan Bane ke kota kelahiran Batman. Namun Batman tak ada di sana untuk menyelamatkan kotanya.

Batman: The Dark Knight Rises merupakan film ketiga dari sekuel Batman yang digarap sutradara Christopher Nolan. Sebelumnya, Nolan merilis Batman Begins pada 2005 dan Batman: The Dark Knight di 2008. Bila dibandingkan dengan dua film sebelumnya, tak banyak yang berbeda dengan The Dark Knight Rises. Malahan rias wajah dan kostum pemain lebih menarik di Batman: The Dark Knight. Sebab di film 2008 itu, Nolan menampilkan wajah Joker dan Harvey Dent yang full make up. Dent pun muncul dengan muka setengah berdaging dan sisanya gosong serta hanya tulang.

Di Batman: The Dark Knight Rises, penampakan Bane (Tom Hardy) tidak spesial. Dia cuma memakai penutup muka, semacam masker berpipa besi kecil-kecil untuk membantunya bernapas. Keunggulan Bane, dia petarung kuat dengan pasukan tentara bayaran yang tak takut mati. Dan aura menyeramkan atau terornya pun tak sebesar Joker (Heath Ledger). Hanya dengan senyuman sinisnya, Joker membuat lawannya merinding.

Menariknya pada Batman: The Dark Knight Rises, di awal film Bruce Wayne (Christian Bale) tampak jauh lebih tua dan tak berdaya dibanding sekuel sebelumnya. Berjenggot, rambut panjang, dan tongkat penyangga menjadikan Wayne seperti berusia renta. Namun ketika dia memutuskan kembali menjadi Batman, sosok perkasanya muncul lagi. Wajah menawan Wayne kembali hadir di muka penonton.

Untuk kecanggihan alat, tak banyak benda baru yang Batman gunakan di The Dark Knight Rises. Dia masih menggunakan mobil ala tank militer yang disebut Tumbler dan Batpod, motor berban raksasa yang bisa melintir.

Namun dari segi cerita, penulis naskah David S. Goyer dan Christopher Nolan patut diacungi dua jempol. Mereka mampu menjaga klimaks dan antiklimaks The Dark Knight Rises. Hasilnya, durasi selama 2 jam 45 menit tak membuat alur cerita membosankan, tidak mudah tertebak, dan memilukan. Dari sekuel ini pula penonton bisa mengetahui kenapa ada Robin (Joseph Gordon-Levitt) serta Catwoman (Anne Hathaway) dalam cerita Batman.

Sayangnya ada adegan ciuman antara Catwoman dengan Batman pada saat genting. Adegan yang terlalu Hollywood. Masih sempat-sempatnya bermesraan waktu dunia tengah terancam. Babak yang tak masuk akal dan tidak perlu ada. Pemilihan lapangan rugby oleh Bane sebagai titik awal penyerangan Kota Gotham juga sangat Amerika sekali. Sebab, olahraga ini memang hanya terkenal di Negeri Abang Sam itu.

Secara keseluruhan, The Dark Knight Rises bukan tentang Batman saja. Film ini soal warga Kota Gotham. “Aku menggunakan topeng untuk melindungi orang-orang terdekatku,” kata Batman. “Dan dengan topeng ini, siapa saja bisa menjadi Batman.”

Batman: The Dark Knight Rises
Sutradara: Christopher Nolan
Produser: Christopher Nolan, Charles Roven
Penulis naskah: David S. Goyer dan Christopher
Pemain: Christian Bale, Michael Caine, Gary Oldman, Anne Hathaway, Tom Hardy, Marion Cotillard, Joseph Gordon-Levitt, Morgan Freeman.
Produksi: Warner Bros. Pictures
Durasi: 165 menit

sumber:http://www.tempo.co//

Makna Dari Pancasila

Pancasila adalah ideologi dasar bagi negara Indonesia. Nama ini terdiri dari dua kata dari Sansekerta: pañca berarti lima dan śīla berarti prinsip atau asas. Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia. Tahukah anda mengenai makna – makna yang terkandung di dalamnya?
mari kita lirik sejenak makna  – makna yang terkandung dalam pancasila.
PANCASILA
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
Makna sila ini adalah:
* Percaya dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
* Hormat dan menghormati serta bekerjasama antara pemeluk agama dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda sehingga terbina kerukunan hidup.
* Saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing.
* Tidak memaksakan suatu agama atau kepercayaannya kepada orang lain.
2. Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab
Makna sila ini adalah:
* Mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan persamaan kewajiban antara sesama manusia.
* Saling mencintai sesama manusia.
*Mengembangkan sikap tenggang rasa.
* idak semena-mena terhadap orang lain.
* Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
* Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
* Berani membela kebenaran dan keadilan.
* Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari masyarakat Dunia Internasional dan dengan itu harus mengembangkan sikap saling hormat-menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.
3. Persatuan Indonesia
Makna sila ini adalah:
* Menjaga Persatuan dan Kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
* Rela berkorban demi bangsa dan negara.
* Cinta akan Tanah Air.
* Berbangga sebagai bagian dari Indonesia.
* Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.
4. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan
Makna sila ini adalah:
* Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat.
* Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain.
* Mengutamakan budaya rembug atau musyawarah dalam mengambil keputusan bersama.
* Berrembug atau bermusyawarah sampai mencapai konsensus atau kata mufakat diliputi dengan semangat kekeluargaan.
5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Makna sila ini adalah:
* Bersikap adil terhadap sesama.
* Menghormati hak-hak orang lain.
* Menolong sesama.
* Menghargai orang lain.
* Melakukan pekerjaan yang berguna bagi kepentingan umum dan bersama.

Sumber :  http://id.wikipedia.org/wiki/Pancasila & http://bilqisiqlib.wordpress.com

Kisah Tiga Orang Bani Israil : Penderita Penyakit Lepra, Orang Berkepala Botak dan Orang Buta

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Sesungguhnya ada tiga orang dari Bani Israil, yaitu: penderita penyakit lepra, orang berkepala botak dan orang buta. Kemudian Allah Ta’ala ingin menguji mereka bertiga, maka diutuslah kepada mereka seorang malaikat.
Maka datanglah malaikat itu kepada orang pertama yang menderita penyakit lepra dan bertanya kepadanya: “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?” Ia menjawab: “Rupa yang bagus, kulit yang indah, dan penyakit yang menjijikkan banyak orang ini hilang dari diriku”. Maka diusaplah orang tersebut, dan hilanglah penyakit itu, serta diberilah ia rupa yang bagus, kulit yang indah.  Malaikat itu bertanya lagi kepadanya: “Lalu kekayaan apa yang paling kamu senangi?” Ia menjawab: “Unta atau sapi.” Maka diberilah ia seekor unta yang sedang bunting, dan iapun didoakan: “Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepadamu dengan unta ini.”
Kemudian Malaikat tadi mendatangi orang kepalanya botak, dan bertanya kepadanya: “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?” Ia menjawab: “Rambut yang indah, dan apa yang menjijikkan banyak orang ini hilang dari diriku”. Maka diusaplah kepalanya, dan seketika itu hilanglah penyakitnya, serta diberilah ia rambut yang indah. Malaikat tadi bertanya lagi kepadanya: “Harta apakah yang kamu senangi?” Ia menjawab: “Sapi atau unta.” Maka diberilah ia seekor sapi yang sedang bunting dan didoakan: “Semoga Allah memberkahimu dengan sapi ini.”
Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang buta, dan bertanya kepadanya: “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?” Ia menjawab: “Semoga Allah berkenan mengembalikan penglihatanku sehingga aku dapat melihat orang.” Maka diusaplah wajahnya, dan seketika itu dikembalikan oleh Allah penglihatannya. Malaikat itu bertanya lagi kepadanya: “Harta apakah yang paling kamu senangi?” Ia menjawab: “Kambing.” Maka diberilah ia seekor kambing yang sedang bunting.
Lalu berkembangbiaklah unta, sapi dan kambing tersebut, sehingga yang pertama memiliki satu lembah unta, yang kedua memiliki satu lembah sapi, dan yang ketiga memiliki satu lembah kambing.
Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selanjutnya:
“Kemudian, datanglah Malaikat itu kepada orang  yang sebelumnya menderita penyakit lepra, dengan menyerupai dirinya (yakni di saat ia masih dalam keadaan berpenyakit lepra), dan berkata kepadanya: “Aku seorang miskin, telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rizki) dalam perjalananku ini, sehingga tidak akan dapat meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian dengan pertolongan anda. Demi Allah yang telah memberi anda rupa yang tampan, kulit yang indah, dan kekayaan ini, aku minta kepada anda satu ekor unta saja untuk bekal meneruskan perjalananku.” Tetapi dijawab: “Hak-hak (tanggunganku) masih banyak.” Malaikat tadi berkata kepadanya: “Sepertinya aku pernah mengenal anda, bukankah anda ini dulu orang yang menderita penyakit lepra, yang orang-orang pun jijik melihat anda, lagi pula anda miskin, kemudian Allah memberikan kepada anda harta kekayaan?” Dia malah menjawab: “Harta kekayaan ini aku warisi turun-temurun dari nenek moyangku yang mulia lagi terhormat.” Maka  malaikat tadi berkata kepadanya: “Jika anda berkata dusta niscaya Allah akan mengembalikan anda kepada keadaan anda semula.”
Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang sebelumnya berkepala botak, dengan menyerupai dirinya (disaat masih botak), dan berkata kepadanya sebagaimana ia berkata kepada orang yang pernah menderita penyakit lepra, serta ditolaknya sebagaimana ia telah ditolak oleh orang yang pertama. Maka malaikat itu berkata: “Jika anda berkata dusta niscaya Allah akan mengembalikan anda seperti keadaan semula.”
Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang sebelumnya buta, dengan menyerupai keadaannya dulu (di saat ia masih buta), dan berkata kepadanya: “Aku adalah orang yang miskin, kehabisan bekal dalam perjalanan, dan telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rizki) dalam perjalananku ini, sehingga aku tidak dapat lagi meneruskan perjalananku hari ini, kecuali dengan pertolongan Allah kemudian pertolongan anda. Demi Allah yang telah mengembalikan penglihatan anda, aku minta seekor kambing saja untuk bekal melanjutkan perjalananku.” Maka orang itu menjawab: “Sungguh aku dulunya buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku. Maka ambillah apa yang anda sukai, dan tinggalkan apa yang tidak anda sukai. Demi Allah, sekarang ini aku tidak akan mempersulit anda dengan memintamu mengembalikan sesuatu yang telah anda ambil karena Allah.” Maka malaikat tadi berkata: “Peganglah kekayaan anda, karena sesungguhnya kalian ini hanya diuji oleh Allah. Allah telah ridha kepada anda, dan murka kepada kedua teman anda.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhori, no. 3464 dan Muslim, no. 2964).
Sumber: http://attaubah.com

Allah Ta’ala Menghidupkan Orang Mati Untuk Suatu Kaum

Pengantar
Ini adalah kisah tentang sekelompok orang dari kalangan Bani Israil. Mereka ingin mengetahui sesuatu tentang kematian dari orang yang telah merasakannya dan merasakan sekaratnya. Lalu mereka memohon kepada Allah agar menghidupkan seorang yang telah mati untuk mereka di salah satu kuburan mereka. Maka Allah menghidupkan seorang laki-laki yang memberitakan kepada mereka tentang panasnya kematian yang belum reda darinya sampai hari itu, padahal dia telah mati seratus tahun.
Teks Hadis
Dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Ada sekelompok orang dari Bani Israil yang keluar mendatangi sebuah kuburan. Mereka berkata, ‘Sebaiknya kita shalat dua rakaat dan berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar mengeluarkan seorang yang telah mati, lalu kita bertanya kepadanya tentang kematian.’” Nabi bersabda, “Lalu mereka melakukannya. Ketika mereka dalam kondisi demikian, tiba-tiba sebuah kepala muncul dari sebuah kubur di kuburan itu. Ia berwana coklat dan di keningnya terdapat tanda sujud. Dia berkata, ‘Wahai kalian, apa yang kalian inginkan dariku? Aku telah mati seratus tahun yang lalu dan panasnya kematian belum reda dariku sampai sekarang. Maka berdoalah kalian kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar mengembalikan diriku sebagaimana semula.’”
Takhrij Hadis
Syaikh Nashiruddin Al-Albani tentang takhrij hadis ini dalam Silsilah Al-Ahadis Ash-Shahihah (6/1028), no. 1209, berkata, diriwayatkan oleh Ahmad dalam Az-Zuhud (16-17), Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf (9/62) tanpa kisah. Begitu pula Bazzar dalam musnadnya (1/108/192- Kasyful Astar). Hadis ini diriwayatkan oleh Abd bin Humaid dalam Al-Muntakhab dari Al-Musnad (Q 1/152) dengan lengkap. Begitu pula Waki’ dalam Az-Zuhud (1/280/56) dan Ibnu Abi Dawud dalam Al-Baats (5/30).
Ucapan yang pertama darinya mempunyai penguat dari hadis Abu Hurairah secara marfu’.
Diriwayatkan oleh Abu Dawud (2/126), Thahawi dalam Musykilil Atsar (1/40-41), Ibnu Hibban (109 – Mawarid).
Penjelasan Hadis
Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam mensyariatkan kepada kita untuk menyampaikan tentang berita-berita Bani Israil. Beliau menjelaskan alasan hal itu dalam sabdanya, “Sesungguhnya pada mereka terdapat keajaiban-keajaiban.”
Kemudian beliau menyampaikan sebuah kisah dari mereka yang mengandung salah satu keajaiban. Yaitu kisah sekelompok Bani Israil yang keluar menuju sebuah kuburan. Seorang dari mereka mengusulkan agar mereka melaksanakan shalat dua rakaat, kemudian berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar mengeluarkan untuk mereka seorang yang telah mati supaya bisa menanyakan tentang kematian kepadanya. Tujuan mereka adalah supaya ilmu dan iman mereka bertambah. Karena, orang yang berziarah kubur akan memikirkan keadaan orang-orang yang telah mati, niscaya dia akan mengambil pelajaran. Dia akan menjadi seperti mereka, di mana para mayat itu sebelumnya adalah orang-orang yang hidup sebelum nyawa mereka dicabut.
Seseorang akan menemukan pelajaran jika dia merenungkan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan hadis yang memberitakan tentang maut dan sekaratnya, apa yang dirasakan oleh orang-orang yang dicabut nyawanya, dan apa yang terjadi mereka di kubur mereka. Dan di hadapan kita terdapat banyak nash dari Allah dan Rasulullah yang di dalamnya terdapat pelajaran dan nasihat bagi siapa pun yang diberi pemahaman dan pemikiran oleh Allah.
Jika seseorang menyaksikan orang-orang mati dihidupkan, dia berbicara dengan mereka dan mereka berbicara dengannya, maka iman akan bertambah jika Allah menginginkan kebaikan untuknya dan memberinya hati yang khusyu’ dan tawadhu’. Banyak manusia sepanjang sejarah telah menyaksikan orang mati yang dihidupkan. Korban pembunuhan di lingkungan Bani Israil dipukul oleh kaumnya dengan anggota tubuh sapi yang diperintahkan oleh Allah agar disembelih, maka Allah menghidupkannya dan ia mengatakan siapa pembunuhnya.
Orang yang melewati suatu negeri yang temboknya telah roboh hingga menutupi atapnya, dan dia merasa aneh jika Allah menghidupkan negeri tersebut setelah ia hancur lebur. Allah mematikan orang ini dan keledainya selama seratus tahun, kemudian menghidupkannya. Dia melihat kepada tulang-tulang, bagaimana Allah menyusun lalu membungkusnya dengan daging. Ketika bentuk ciptaan telah sempurna, maka ruhnya dikembalikan.
Manakala Ibrahim meminta kepada Allah agar menunjukkan bagaimana Dia menghidupkan orang mati, Allah memerintahkannya agar menyembelih empat ekor burung dan mencincangnya, lalu disebar di puncak empat gunung, kemudian memanggilnya. Tiba-tiba bagian-bagiannya berkumpul, ruhnya kembali dan bangkit dengan bertasbih kepada Tuhannya.
Pada masa Isa orang-orang melihat bagaimana dia menghidupkan orang mati, dan Allah menghidupkan orang-orang yang meninggalkan negeri mereka karena takut mati sementara jumlah mereka ribuan setelah mereka mati.
Juga hidupnya mayat ini yang dihidupkan oleh Allah karena permintaan sekelompok orang Bani Israil kepada-Nya agar menghidupkan orang mati guna ditanyai tentang kematian.
Allah mengabulkan doa mereka. Mayit ini melongokkan kepalanya dari dalam kubur. Rasulullah menjelaskan sifat mayit tersebut seolah-olah dia hadir bersama mereka. Dia berwarna coklat dan di antara kedua matanya terdapat bekas sujud. Dia berbicara kepada mereka, mengingkari apa yang mereka lakukan kepadanya. Dia bercerita bahwa dia telah mati seratus tahun yang lalu dan panasnya kematian belum lenyap sampai waktu Allah menghidupkannya saat itu. Dia meminta kepada mereka agar berdoa kepada Allah supaya mengembalikannya seperti semula.
Orang yang menceritakan dampak kematiannya yang telah berlangsung dalam waktu sekian lama, ini menunjukkan beratnya penderitaan manusia dalam urusan kematiaannya, walaupun dia orang yang shalih sekalipun. Laki-laki ini termasuk orang yang shalih, buktinya adalah dia banyak melakukan shalat, bekas sujud begitu jelas terlihat di antara kedua matanya.
Pelajaran-Pelajaran dan Faedah-Faedah Hadis

  1. Anjuran menyampaikan berita dan kisah Bani Israil. Jika berita itu termasuk yang dimuat di dalam Al-Qur’an dan sunah, maka tidak ada masalah untuk menyampaikannya. Jika ia hanya dinukil di buku-buku, maka jika ia bertentangan dengan kaidah pokok terkait dengan hak Allah dan hak para rasul-Nya, ia tidak boleh disampaikan kecuali jika disertai penjelasan tentang penyimpanagannya. Jika memang murni baik, maka tidak apa-apa untuk disampaikan.
  2. Kemampuan Allah menghidupkan orang mati. Allah menghidupkan orang mati yang bercerita tentang kematiannya kepada sekelompok Bani Israil.
  3. Anjuran shalat dua rakaat sebelum berdoa dengan perkara yang besar, sebagaimana orang-orang yang diceritakan oleh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dalam hadis ini juga telah melakukannya.
  4. Menetapkan karamah bagi hamba-hamba Allah yang shalih. Allah menghidupkan seorang mayit yang bercerita tentang kematiaannya kepada mereka.
  5. kadangkala Allah menjawab doa orang-orang shalih, walaupun jawaban itu mengakibatkan terjadinya perkara luar biasa di luar kebiasaan manusia.

Muhammad bin Wasi’ : Panutan Dalam Pelajaran Ikhlas

Seorang pembesar bernama Malik bin Al Mundzir pernah mengundangnya.”Terimalah jabatan sebagai Qadhi!”. Tetapi Muhammad bin Wasi’ menolak, tapi Malik tetap membujuknya dan berkata,”Kamu harus mau menjabat sebagai Qadhi, jika tidak aku akan mencambukmu sebanyak tigaratus kali!”. Muhammad bin Wasi’ mengatakan,”Jika engkau lakukan, engkau orang yang semena-mena. Sungguh,hina di dunia lebih baik daripada hina di akhirat”.
Hammad bin Zaid berkata,”Ada orang berkata kepada Muhammad bin Wasi’,”Berikanlah wasiat untukku!”. Beliau menjawab ; ”Aku wasiatkan kepadamu agar engkau menjadi raja di dunia dan akhirat”. Orang itu bertanya,”Bagaimanakah caranya?”.Muhammad bin Wasi’ menjelaskan,”Bersikaplah zuhud terhadap dunia”.
Sulaiman At Taimi berkata : “Aku tidak pernah melihat orang yang khusyu’nya melebihi Muhammad bin Wasi’”
Hazm Al Qath’i berkata,”Muhammad bin Wasi’ berkata menjelang wafatnya,”Wahai saudara-saudara,tahukah kalian kemana aku akan dibawa pergi? Demi Allah, ke neraka kecuali Allah memberikan ampunan untukku”
Muhammad bin Wasi’ jika ditanya,”Apa kabar anda pagi ini?”. Beliau menjawab,”Ajalku dekat, angan-anganku masih panjang sementara amalanku buruk”
Muhammad bin Wasi’ berkata ,”Sungguh, ada seseorang sering menangis selama duapuluh tahun dan istrinya yang selalu didekatnya tidak pernah tahu”.

Sumber : http://www.salafy.or.id/2012/05/03/muhammad-bin-wasi-panutan-dalam-pelajaran-ikhlas/

Kesabaran Abdullah bin Hudzafah

 Apabila manusia melihat keadaan Abdullah bin Hudzafah bin Qais radhiyallahu ‘anhu ketika Raja Romawi hendak menghalanginya dari agamanya, niscaya mereka kan melihat kedudukan yang mulia dan laki-laki yang agung.
Umar bin Khattab radhiayallahu ‘anhu memberangkatkan tentaranya menuju Romawi. Kemudian tentara Romawi berhasil menawan Abdullah bin Hudzafah dan membawanya pulang ke negeri mereka. Kemudian mereka berkata: “Sesungguhnya ia adalah salah seorang sahabat Muhammad.” Raja Romawi berkata: “Apakah kamu mau memeluk agama Nashrani dan aku hadiahkan kepadamu setengah dari kerajaanku?” Abdullah bin Hudzafah menjawab: “Seandainya engkau serahkan seluruh kerajaanmu dan seluruh kerajaan Arab, aku tidak akan meninggalkan agama Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam sekejap mata pun.” Raja Romawi berkata: “Kalau begitu, aku akan membunuhmu.” Ia menjawab: “Silahkan saja!”
Maka Raja memerintahkan prajuritnya untuk menyalibnya dan berseru kepada pasukan pemanah: “Panahlah ia, arahkan sasarannya pada tempat-tempat yang terdekat dengan badannya.” Sementara dia tetap berpaling, enggan, dan tidak takut. Maka raja Romawi pun menurunkannya dari tiang salib. Dia perintahkan kepada pengawalnya untuk menyiapkan belanga (kuali) yang diisi dengan air dan direbus hingga mendidih. Kemudian ia perintahkan untuk memanggil tawanan-tawanan dari kaum muslimin. Kemudian ia lemparkan salah seorang dari mereka ke dalam belanga tadi hingga tinggal tulang belulangnya. Namun Abdullah bin Hudzafah tetap berpaling dan enggan untuk masuk agama Nashrani. Kemudian Raja memerintahkan pengawalnya untuk melemparkan Abdullah bin Hudzafah ke dalam belanga jika ia tidak mau memeluk agama Nashrani. Ketika mereka hendak melemparkannya beliau menangis. Kemudian mereka melapor kepada Raja: “Sesungguhnya dia menangis.” Raja mengira bahwasanya beliau takut, maka ia berkata: “Bawa dia kemari!” Lalu berkata: “Mengapa engkau menangis?” Jawabnya : “Aku menangisi nyawaku yang hanya satu yang jika engkau lemparkan ke dalamnya maka akan segera pergi. Aku berharap seandainya nyawaku sebanyak rambut yang ada di kepalaku kemudian engkau lemparkan satu per satu ke dalam api karena Allah.” Maka Raja tersebut heran dengan jawabannya. Kemudian ia berkata : “Apakah engkau mau mencium keningku, kemudian akan kubebaskan engkau?” Abdullah menjawab : “Beserta seluruh tawanan kaum muslimin ?” Ia menjawab: “Ya.” Maka ia pun mencium kening raja tersebut dan bebaslah ia beserta seluruh tawanan kaum Muslimin. Para tawanan menceritakan kejadian ini kepada Umar bin Khattab. Maka berkatalah Umar: “Wajib bagi setiap muslim untuk mencium kening Abdullah bin Hudzafah. Aku yang akan memulainya.” Kemudian Umar mencium keningnya.1
Ini adalah kedudukan yang agung lagi mulia karena Abdullah bin Hudzafah tetap teguh memegang agamanya dan tidak menerima agama selainnya walaupun ia diiming-imingi dengan kerajaan Kisra dan yang semisalnya untuk diberikan kepadanya dan seluruh kerajaan Arab. Kemudian ia tetap membenarkan atas Allah tidak takut terhadap para pemanah yang hendak memanahnya dalam keadaan tubuh sedang disalib. Ia juga tidak takut terhadap belanga yang berisi air yang mendidih ketika ia melihat salah seorang tawanan dilemparkan ke dalamnya hingga nampak tulang belulangnya. Bersamaan dengan itu ia berharap jika nyawanya sejumlah rambut di kepalanya yang disiksa di jalan Allah karena Allah semata. Maka ketika ia melihat kemashlahatan umum yaitu dibebaskannnya para tawanan, ia pun mau untuk mencium kening raja tersebut. Hal ini adalah merupakan suatu kebijakan yang amat agung. Maka Allah pun ridha terhadap Abdullah bin Hudzafah dan iapun ridha kepadaNya.
Foot Note:
[1] Lihat: Siyaru A’lami An Nubalaa’, Adz Dzahabi, 2/14 ; dan Al Ishabah fi Tamyizi As Shahabah 2/269.
Dikutip dari: “Indahnya Kesabaran” penulis:  Said bin Ali Wahf al-Qahthany, Pustaka At-Tibyan, Solo

Keikhlasan Ibnul Mubarok -rahimahullah- Ketika Berperang Melawan Romawi

Muhammad bin Al-Mutsanna menceritakan, Abdullah bin Sinan telah menceritakan kepada kami, ia berkata, “Aku pernah bersama Abdullah bin Al-Mubarak dan Mu’tamar bin Sulaiman di Tarsus (di Turki sekarang). Orang-orang berteriak, ‘Musuh, musuh’. Ibnul Mubarak dan orang-orang lalu keluar, ketika dua kelompok sudah saling berhadapan. Seorang Romawi maju dan menantang perang tanding (satu lawan satu). Maka seorang lelaki (Muslim) maju, lelaki kafir itu berhasil menerjang dan membunuhnya. Begitulah berlangsung terus hingga ia berhasil membunuh enam orang Muslim. Ia dengan angkuh berdiri di antara dua kubu menantang perang tanding. Namun tak seorang pun yang melayaninya. Tiba-tiba Ibnul Mubarak menoleh kepadaku (diceritakan ditempat lain bahwa beliau menggunakan penutup wajah sehingga tidak ada yang mengenalnya kecuali hanya manusia yang disebelahnya) seraya berkata, “Wahai Fulan, kalau aku terbunuh, lakukan ini dan ini.” Beliau lalu mengayuh tunggangannya dan menyerang lelaki kafir itu, dan terjadilah pertarungan untuk beberapa saat, dan akhirnya beliau berhasil membunuh orang kafir tersebut dan menantang perang tanding (orang kafir lainnya). Seorang kafir lain maju menghadapi beliau, namun berhasil beliau bunuh. Begitu terus berlangsung hingga beliau berhasil membunuh enam orang kafir. Beliau terus menantang bertanding, namun sepertinya mereka jadi penakut (dan membangkitkan kembali semangat jihad pasukan Muslim yang sebelumnya sempat sedikit kendur).
Beliau lantas menghentakkan tunggangannya menembus dua kubu yang berhadapan lalu menghilang. Kami seolah-olah tidak merasakan kejadian apa-apa (karena teramat terpananya). Tiba-tiba beliau sudah berada di sisiku seperti sebelumnya, seraya menandaskan, “Wahai Fulan, selama aku masih hidup, jangan engkau ceritakan hal ini kepada siapa-siapa.” (Siyar A’lam an-Nubala’ 8/408,409)

Sumber: Disalin ulang oleh al Akh Abu Abdillah Huda dari buku “Meneladani Akhlak Generasi Terbaik”, Abdul Aziz bin Nashir al-Julayyil & Baha’uddin bin Fatih Uqail, Penerbit Darul Haq. dan http://alqiyamah.files.wordpress.com